Yang sering bertanya tentang masa laluku bukan Tuhan.
Melainkan manusia.
Dan suaraku sendiri.
Ramadhan datang tanpa interogasi.
Ia tidak meminta daftar kesalahan.
Tidak membuka arsip dosa.
Tidak bertanya siapa aku kemarin.
Ia hanya datang—
seperti pagi yang tidak peduli
seberapa gelap malam sebelumnya.
Aku sering mengira bahwa untuk pantas menyambut Ramadhan,
seseorang harus lebih dulu bersih.
Lebih dulu rapi.
Lebih dulu selesai dengan dirinya sendiri.
Nyatanya, aku selalu datang dengan sisa-sisa.
Dengan kebiasaan yang belum hilang.
Dengan penyesalan yang belum reda.
Dengan doa-doa yang masih canggung.
Dan Ramadhan tetap menerimaku.
Tidak ada ayat yang bertanya
berapa kali aku jatuh.
Tidak ada azan yang menyinggung
kesalahan yang pernah kulakukan.
Waktu berbuka tidak pernah menunda diri
hanya karena aku belum pantas.
Ramadhan tidak pernah berkata,
“Berbenahlah dulu, baru datang.”
Ia hanya berkata,
“Datanglah.”
Manusia sering mencintai versi terbaik kita.
Tuhan tidak menunggu versi itu.
Manusia memintamu berubah lebih dulu,
lalu diterima.
Tuhan menerimamu,
lalu perlahan mengubahmu—
jika kamu bersedia.
Ada hari-hari di Ramadhan
ketika aku beribadah dengan rapi.
Ada juga hari-hari
ketika aku hanya mampu bertahan.
Dan anehnya,
Ramadhan tidak membedakan keduanya.
Ia tidak mencatat dengan nada mengancam.
Ia hanya berjalan bersamaku,
hari demi hari.
Mungkin itulah sebabnya
Ramadhan terasa menenangkan.
Bukan karena aku tiba-tiba menjadi baik,
tetapi karena untuk sekali ini,
aku tidak dikejar oleh masa laluku sendiri.
Aku tidak tahu
apakah aku akan menjadi lebih saleh setelah ini.
Aku tidak berani berjanji
akan berubah sepenuhnya.
Tapi Ramadhan mengajariku satu hal penting:
bahwa Tuhan tidak mencintaiku
karena aku bersih,
melainkan karena aku masih mau datang.
Dengan masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.
Dengan iman yang masih belajar berdiri.
Dengan hati yang tidak selalu tenang.
Dan mungkin,
itulah keadilan paling lembut
yang pernah kuterima:
Bahwa di bulan ini,
aku tidak dinilai dari siapa aku dulu,
melainkan dari keberanianku
untuk tetap hadir hari ini.

0 Komentar