Menulis tidak selalu tentang dibaca. Kadang, ia hanya tentang bertahan.
Blog ini tidak pernah benar-benar dibaca.
Aku tahu itu dari angka-angka kecil yang jujur tapi
kejam. Statistik pengunjung yang nyaris tak bergerak. Nol komentar. Nol
notifikasi. Kadang satu pembaca, dan aku tidak pernah yakin apakah itu manusia
sungguhan atau hanya bot yang tersesat.
Aku menulis di sini sejak lama. Terlalu lama untuk
sesuatu yang tidak pernah memberi umpan balik.
Template blog ini sederhana, hampir memalukan.
Tidak ada logo profesional, tidak ada halaman “Tentang Penulis” yang
meyakinkan. Hanya deretan tulisan dengan tanggal yang terus bertambah, seperti
kalender yang berjalan sendiri.
Aku pernah mencoba berhenti.
Aku bilang pada diri sendiri bahwa menulis tanpa
pembaca adalah kesia-siaan yang rapi. Aku menutup tab blog itu, menghapus
bookmark-nya, dan berjanji akan mencari hal lain yang lebih masuk akal.
Tapi setiap malam, jariku tetap kembali ke
keyboard.
Aku menulis tentang hal-hal kecil yang tidak cukup
penting untuk dibagikan di media sosial. Tentang rasa lelah yang tidak
dramatis. Tentang bahagia yang terlalu singkat untuk dirayakan. Tentang
hari-hari biasa yang tidak pantas menjadi cerita, tapi terlalu berat untuk
disimpan sendiri.
Aku menulis bukan karena ada yang meminta.
Aku menulis karena jika tidak, pikiranku akan
terlalu bising.
Kadang aku membayangkan ada satu orang yang membaca
diam-diam. Seseorang yang datang tanpa meninggalkan jejak, seperti tamu yang
masuk lewat pintu belakang lalu pergi sebelum sempat disapa. Aku menulis untuk
kemungkinan kecil itu—meski aku tahu kemungkinan itu nyaris tidak ada.
Tulisan-tulisanku tidak viral. Tidak dibagikan.
Tidak dipuji. Tidak dikritik.
Mereka hanya… ada.
Suatu malam, aku menulis entri paling jujur yang
pernah kutulis. Judulnya sederhana: “Aku Lelah Menjadi Tidak Terlihat.”
Aku menulis tanpa metafora, tanpa kalimat indah.
Hanya kejujuran mentah tentang betapa melelahkannya terus berusaha di dunia
yang seolah tidak pernah menoleh.
Aku menekan tombol publikasikan dan langsung
menutup laptop.
Aku tidak menunggu apa-apa.
Keesokan harinya, aku membuka blog itu hanya karena
kebiasaan. Angkanya masih sama. Nol komentar.
Tapi ada satu email.
Komentar baru menunggu moderasi.
Tanganku berhenti bergerak. Jantungku berdetak
lebih cepat dari seharusnya—reaksi yang berlebihan untuk sesuatu yang mungkin
hanya spam.
Komentarnya pendek.
“Aku membaca semuanya. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya bicara.”
Tidak ada nama. Tidak ada tautan. Tidak ada pujian
berlebihan.
Hanya itu.
Aku menatap layar lama sekali. Ada rasa hangat yang
aneh—bukan bahagia yang meledak, tapi lega yang pelan. Seperti menyadari bahwa
teriakan yang selama ini kaupendam ternyata terdengar oleh seseorang, meski
samar.
Aku membalas komentar itu, sederhana saja.
Terima kasih sudah ada.
Aku tidak tahu apakah ia akan kembali. Aku tidak
tahu apakah ia akan pernah menulis lagi. Tapi malam itu, aku menulis satu entri
baru dengan perasaan yang berbeda.
Aku menulis dengan keyakinan kecil: bahwa menulis
tidak selalu tentang dilihat, tapi tentang bertahan. Tentang meninggalkan
jejak—sekecil apa pun—di dunia yang terlalu cepat bergerak.
Blog ini masih sepi.
Tidak tiba-tiba ramai. Tidak berubah drastis. Tapi
sekarang aku tahu satu hal yang penting:
Tulisan yang jujur selalu menemukan pembacanya.
Mungkin tidak sekarang.
Mungkin tidak banyak.
Tapi cukup satu… agar semuanya terasa berarti.
Dan selama itu, aku akan tetap menulis.

0 Komentar