Pertanyaan itu jarang diucapkan dengan suara keras.
Bukan karena tidak pernah muncul, tetapi karena terlalu berbahaya untuk diakui.
Sejak kecil, banyak dari kita diajarkan bahwa iman harus yakin. Utuh.
Tidak retak. Dan keraguan sering ditempatkan di sisi yang gelap—dianggap
sebagai pintu awal menuju kekafiran. Maka ketika suatu hari pertanyaan itu
muncul di kepala, kita buru-buru menekannya. Kita istighfar. Kita merasa
bersalah. Kita takut.
Padahal pertanyaan itu tidak muncul dari niat membangkang. Ia sering
lahir dari kelelahan. Dari doa-doa yang tidak terjawab. Dari kenyataan hidup
yang terasa terlalu kejam untuk dijelaskan dengan kalimat, “Ini semua
rencana Tuhan.”
Aku pernah bertemu orang-orang yang tetap shalat, tetap puasa, tetap
menyebut nama Tuhan—namun di dalam dirinya ada ruang kosong yang tidak berani
disentuh. Ruang bernama ragu. Bukan ragu karena ingin menolak, tapi ragu karena
ingin mengerti.
Ironisnya, semakin keras kita melarang keraguan, semakin jauh iman terasa
dari pengalaman manusia. Ia berubah menjadi hafalan, bukan perjalanan.
Keraguan sering disamakan dengan ketidakpercayaan. Padahal keduanya
tidak selalu sama. Tidak percaya adalah menutup pintu. Sementara ragu justru
tanda bahwa pintu itu masih terbuka—bahwa seseorang masih peduli.
Orang yang benar-benar tidak percaya tidak lagi bertanya. Ia tidak
gelisah. Ia tidak resah. Ia selesai. Justru kegelisahan itulah tanda bahwa iman
masih hidup, meski sedang terluka.
Dalam sejarah Islam, pertanyaan bukanlah hal asing. Banyak ayat
Al-Qur’an turun sebagai jawaban atas kebingungan manusia. Banyak dialog terjadi
bukan karena manusia patuh, tetapi karena manusia bertanya. Bahkan doa Nabi
Ibrahim agar diperlihatkan bagaimana Tuhan menghidupkan yang mati lahir bukan
dari kekufuran, melainkan dari keinginan agar hati menjadi tenang.
Iman, rupanya, tidak selalu tumbuh dari kepastian. Ia sering tumbuh dari
pencarian.
Masalahnya, kita hidup di lingkungan yang tidak ramah terhadap
kerentanan. Kita lebih mudah menerima Muslim yang terlihat yakin daripada
Muslim yang jujur. Kita memuja kepastian, meski itu sering kali dangkal. Kita
curiga pada pertanyaan, meski ia lahir dari kejujuran.
Akibatnya, banyak orang memilih diam. Mereka tetap beribadah, tetapi
tidak lagi berbicara dengan Tuhan secara jujur. Doa menjadi formal. Hubungan
menjadi kering. Tuhan terasa jauh, bukan karena Dia pergi, tetapi karena kita
takut datang dengan isi hati yang sebenarnya.
Ramadhan sering memperbesar semua itu. Di bulan ini, tuntutan kesalehan
terasa lebih kuat. Semua orang tampak lebih religius. Media sosial dipenuhi
ayat dan nasihat. Di tengah keramaian itu, orang-orang yang sedang ragu merasa
semakin sendirian.
Padahal Ramadhan seharusnya menjadi ruang aman untuk kembali. Bukan
hanya bagi yang yakin, tetapi juga bagi yang lelah.
Mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukanlah bolehkah seorang
Muslim meragukan Tuhan, melainkan:
ke mana seorang Muslim harus membawa keraguannya?
Jika keraguan dibawa kepada kesombongan, ia bisa menyesatkan.
Namun jika ia dibawa dengan rendah hati, dengan keinginan untuk memahami, bisa
jadi ia justru memperdalam iman.
Tuhan tidak rapuh oleh pertanyaan manusia.
Yang rapuh adalah ego kita sendiri.
Aku percaya, iman yang matang bukan iman yang tidak pernah ragu, tetapi
iman yang berani melewati keraguan tanpa lari. Iman yang tidak takut berkata, “Aku
tidak mengerti, tapi aku masih ingin bersama-Mu.”
Dan mungkin, justru di titik itulah—di antara yakin dan ragu—iman
benar-benar menjadi milik kita, bukan sekadar warisan.

0 Komentar