Warung Kecil yang Tetap Membuka Puasa

 

Warung Kecil yang Tetap Membuka Puasa

Warung itu tidak pernah benar-benar tutup.
Hanya membuka setengah pintu,
cukup untuk membiarkan angin sore masuk
dan aroma gorengan keluar.

Menjelang magrib,
kursi-kursi plastik mulai terisi.
Bukan oleh orang-orang penting,
hanya mereka yang pulang dengan lelah
dan ingin berbuka tanpa banyak tanya.


Pemilik warung itu seorang perempuan paruh baya.
Ia tidak hafal dalil.
Tidak juga pandai berceramah.

Ia hanya tahu,
orang lapar lebih mudah tersenyum
jika disambut dengan teh hangat.


Ada tukang ojek.
Ada mahasiswa.
Ada lelaki yang setiap sore duduk sendiri
dan selalu memesan yang sama.

Tak ada yang bertanya siapa paling rajin beribadah.
Tak ada yang mengukur kadar iman.

Di warung itu,
puasa hanya berarti:
menunggu azan bersama.


Ketika magrib tiba,
suara azan dari masjid kecil di ujung jalan
mengalir lembut ke dalam warung.

Tidak ada yang berebut.
Tidak ada yang tergesa.

Mereka minum pelan,
seolah ingin memberi hormat
pada hari yang sudah dilewati.


Perempuan itu tersenyum dari balik wajan.
Tangannya cekatan,
hatinya tenang.

Baginya,
Ramadhan bukan tentang siapa yang paling suci,
melainkan siapa yang masih mau duduk bersama
tanpa merasa lebih tinggi dari yang lain.


Warung kecil itu
tidak mengubah dunia.

Tapi setiap magrib,
ia berhasil mengubah satu hal kecil:
lapar menjadi syukur,
dan kesendirian menjadi kebersamaan.

Dan mungkin,
di situlah puasa menemukan maknanya.


 

Posting Komentar

0 Komentar