Aku menahan lapar
sejak fajar membelah jendela
dan kota berjalan seperti biasa
tanpa tahu
bahwa di dalam dadaku
ada sesuatu yang ikut berpuasa
namun tak pernah benar-benar kenyang.
Aku menahan haus
dari tenggorokan yang kering
tapi rindu
tak pernah mengenal waktu imsak.
Ia datang kapan saja,
tanpa sopan,
tanpa izin.
Aku rindu pada doa-doa
yang dulu kuucapkan tanpa curiga,
rindu pada Tuhan
yang dulu terasa dekat
tanpa perlu banyak penjelasan.
Sekarang, setiap kali aku sujud,
aku harus jujur terlebih dahulu
bahwa imanku tidak selalu utuh,
bahwa kepalaku sering berisik,
bahwa hatiku tidak selalu khusyuk.
Aku menahan lapar
karena aku diajarkan itu ibadah.
Tapi rindu ini
tidak pernah diajarkan caranya ditahan.
Ia tumbuh
di sela-sela tarawih yang panjang,
di antara ayat-ayat
yang seharusnya menenangkan
namun justru membuka
kenangan-kenangan lama
tentang aku
yang dulu lebih percaya.
Jika puasa adalah latihan menahan diri,
maka rindu adalah ujian
yang tidak pernah ada di buku fiqih.
Dan hari ini,
aku memilih jujur saja pada-Mu, Tuhan:
aku kuat menahan lapar,
tapi aku masih belajar
menahan rindu
pada-Mu
yang terasa jauh
namun tak pernah benar-benar pergi.

0 Komentar