Di Bawah Kibaran Palestina

By Unknown - 11:16 pm

Dari teriak-teriakan batin, serta sahut-sahutan dari nurani yang panjang. Tentang kemanusiaan, jiwa yang terpanggil kian menyentuh bagian peka. Aku mengenang kala itu, juga sangat mengingat nada-nada itu dari selembar gambar. Oh Palestina, sesungguhnya perjuangan kita belum selesai. Masih terlalu banyak yang harus kita rebut kembali, akan sesuatu yang sudah seharusnya kita jaga. Dari tanah yang jauh jutaan kilometer jaraknya, aku masih berada di jalan yang sama. Wahai Palestina, dari daratan Sunda hingga Jalur Gaza!
Di balik nafas-nafas yang mengigau, aku harumkan sebuah permohonan suci yang masih bersemi dalam darah syuhada. Untuk sesuatu yang juga harus aku tempuh, sebelum terlalu jauh diri hina ini diradang kelalaian. Aku ingin bersanding dengan seorang bidadari, sebelum keindahan sesudahnya, di Jannah yang dijanjikanNya. Tidak harus serupa Ainul Mardiah, tak mesti juga seperti kelembutan yang menjemput para Abdullah di medan Sabilillah. Cukup, aku mendambakan pemandu yang mampu mencintai Al Anfal sepertiku. Cinta yang dimulai dengan La Illahailallah, bersama harga diri seorang Annisa. Pada doa-doa malam, ia tumbuh bersama hangatnya jiwa ini dalam semlilirnya yang dingin. Jiwaku sebagai peluru, imannya menjadi perisai.
Pada setiap pemukiman di bawah kolong langit, di atas bumi yang tersesat oleh zaman, tempat manusia-manusia penyembah kebohongan. Aku telah mengintip banyak sisi yang bisa membawaku ke berbagai lubang tak terkontrol. Sesungguhnya aku menangis, seperti saat melihat Palestina-ku yang bom-bardir oleh roket-roket setan. Karakter yang aku temui pun lebih menyajikan kemufikan. Tidak! Aku tidak terima terus didera harga diri layak moral di balik topeng Valentine. Hingga kering liur, udara yang kuhirup beroma bangkai. Peka amarah sepertinya harus berlari dan bersembunyi. Lalu ke manakah keringat-keringat ksatria yang tak pernah mundur di bawah kobaran api perjuangan. Aku rapuh!
Kembali mengikuti jejak di belakang, dari ratusan hari sebelum hari ini. Saat senyum berkata cinta, hingga pandangan mata hampir membuatku buta. Allahu Akbar! Aku sungguh tidak tenang dengan nilai secuil dosa, apalagi jika sampai menenggelamkan lautan. Aku bersujud, memohon ampun pada Rabb-ku. Semoga terbakar hasrat-hasrat Jahiliyah, menjadi agung seberkah tanah Arabia. Maka kali ini, aku ungkapkan semua. Dari pahala yang tersembunyi, tentang amal sepanjang waktu, dan jejak yang direnggut kelalain hari. Aku, ini perasaan yang jauh dari relung kalbu. Setia, aku masih menunggu. Air mata dari angka amarah yang tertunda. Maafkanlah tentang kekaguman, inilah kenyataan. Sungguh, aku mencintaimu, wahai kau pengibar bendera Palestina di bumi Indonesia!

Bandung, 19 Febuari 2014


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar