Warung kopi itu tidak pernah punya nama.
Ia berdiri di sudut jalan kecil yang jarang
dilewati, di antara toko kelontong tua dan bengkel motor yang sudah lama tutup.
Lampunya temaram, kursinya tidak seragam, dan papan menunya hanya berisi tiga
pilihan: kopi hitam, kopi susu, dan teh hangat.
Warung itu hanya buka setelah tengah malam.
Aku menemukannya tanpa sengaja, pada malam ketika
aku terlalu lelah untuk pulang. Jam di ponselku menunjukkan pukul 00.43 ketika
hujan rintik mulai turun, dan kakiku membawaku ke tempat itu tanpa banyak
berpikir.
“Masuk saja,” kata seorang bapak tua dari balik
meja kayu, seolah sudah menungguku.
Aku duduk. Kopi hitam datang tanpa aku pesan.
“Di sini, semua orang minum yang mereka butuhkan,”
katanya singkat.
Aku meneguk kopi itu. Rasanya biasa saja—tidak
pahit, tidak istimewa. Tapi beberapa detik kemudian, dadaku terasa hangat.
Hangat yang berbeda. Seperti ketika seseorang menyebut namamu dengan suara
lembut setelah sekian lama tak ada yang memanggil.
Aku teringat sesuatu.
Malam ketika aku memutuskan pergi tanpa pamit.
Suara pintu yang kututup terlalu keras.
Wajah ibu yang pura-pura kuat.
Aku meletakkan cangkir itu dengan tangan gemetar.
“Kenapa saya ingat ini?” tanyaku.
Bapak itu tersenyum tipis. “Karena kamu terlalu
lama menguburnya.”
Sejak malam itu, aku kembali.
Aku bukan satu-satunya.
Ada perempuan muda yang selalu duduk di pojok,
menangis pelan setelah minum kopi susu. Ada lelaki berjas lusuh yang menatap
kosong ke cangkir tehnya, seolah melihat masa lalu mengapung di permukaannya.
Tak ada yang saling bertanya. Tak ada yang saling mengganggu.
Kami datang dengan rahasia masing-masing.
Setiap orang yang minum di warung itu akan
mengingat satu kenangan yang paling mereka hindari. Bukan untuk menyiksa, tapi
untuk diakui. Karena kenangan yang diabaikan tumbuh menjadi luka yang tak
sembuh.
Suatu malam, aku memberanikan diri bertanya.
“Kenapa Bapak membuka warung ini?”
Ia mengelap meja perlahan. “Karena dulu tidak ada
tempat untukku mengingat.”
Aku datang hampir setiap minggu. Sampai suatu
malam, warung itu kosong—tidak ada pelanggan lain. Hanya aku dan bapak tua itu.
“Besok aku tidak buka lagi,” katanya tiba-tiba.
Aku terdiam. “Kenapa?”
“Karena orang-orang yang datang ke sini sudah siap
pulang.”
Aku menoleh ke cangkirku. Untuk pertama kalinya,
aku tidak melihat kenangan yang menyakitkan. Yang muncul justru wajah
ibu—tersenyum, menunggu.
Ketika aku mengangkat kepala, warung itu sudah
gelap. Jalanan kosong. Tidak ada tanda-tanda bahwa tempat itu pernah ada.
Keesokan malamnya, aku melewati sudut jalan itu.
Tidak ada warung kopi.
Hanya toko kelontong tua dan bengkel yang tutup.
Tapi di tanganku, masih ada rasa hangat yang belum
sepenuhnya hilang.
Dan aku tahu, beberapa tempat hanya ada untuk
mereka yang berani mengingat… lalu pulang.

0 Komentar