Kata jihad sering membuat orang tegang.
Ia langsung diasosiasikan dengan perang, darah, dan heroisme yang bising.
Padahal, bagi kebanyakan manusia,
medan jihad yang paling berat
bukanlah tempat di mana peluru beterbangan,
melainkan tempat di mana kita sendirian—
berhadapan dengan diri sendiri.
Musuh yang Selalu Kita Bawa
Musuh terbesar manusia bukan selalu orang lain.
Ia sering hadir dalam bentuk yang lebih dekat:
ego, amarah, iri, malas, dan keinginan untuk selalu menang.
Musuh ini tidak pernah jauh.
Ia ikut ke mana pun kita pergi.
Bahkan ikut duduk saat kita beribadah.
Melawannya tidak butuh senjata,
tapi butuh kesabaran—
dan itu jauh lebih melelahkan.
Jihad yang Tidak Pernah Dipuji
Berperang bisa mendatangkan sorak-sorai.
Menang debat bisa menghadirkan kepuasan.
Namun menahan diri
ketika kita mampu menyakiti—
itu jarang terlihat.
Menjaga lisan saat marah.
Memilih diam saat ego ingin berbicara.
Mengakui salah tanpa mencari pembenaran.
Tidak ada tepuk tangan untuk itu.
Tidak ada panggung.
Dan justru karena itu,
jihad semacam ini paling berat.
Puasa sebagai Latihan Jihad
Puasa tidak melatih kita menjadi kuat secara fisik.
Ia melatih kita menjadi sadar.
Sadar bahwa kita tidak selalu harus menuruti keinginan.
Sadar bahwa lapar bisa ditahan,
marah pun seharusnya bisa.
Puasa memperlihatkan betapa seringnya
kita dikendalikan oleh dorongan sesaat—
dan betapa sulitnya mengatakan tidak pada diri sendiri.
Ego yang Menyamar Sebagai
Kebenaran
Ada jihad yang sering gagal kita menangkan:
melawan rasa ingin terlihat paling benar.
Atas nama agama,
kita kadang lebih sibuk menghakimi
daripada memperbaiki diri.
Padahal meluruskan orang lain
jauh lebih mudah
daripada meluruskan hati sendiri.
Jihad yang paling berat
adalah ketika kita memilih rendah hati
di saat ego menuntut kemenangan.
Jihad yang Sunyi
Tidak semua jihad terlihat gagah.
Sebagian berlangsung sunyi:
- bangun
subuh ketika tubuh ingin menyerah
- tetap
jujur ketika ada kesempatan curang
- bersikap
lembut saat dunia bersikap keras
Tidak ada bendera yang dikibarkan.
Tidak ada kisah heroik yang ditulis.
Namun Tuhan melihatnya.
Kemenangan yang Tidak Dirayakan
Mungkin kita terlalu sering mencari jihad
yang bisa diceritakan kepada orang lain.
Padahal kemenangan sejati
adalah yang tidak perlu diumumkan.
Ketika hari ini
kita sedikit lebih sabar dari kemarin.
Sedikit lebih jujur.
Sedikit lebih mampu menahan diri.
Itu jihad.
Dan itu tidak kecil.
Menang Tanpa Merasa Hebat
Jihad yang paling berat
bukan membuat kita merasa hebat,
melainkan membuat kita sadar
betapa rapuhnya diri sendiri.
Dan dari kesadaran itu,
lahir kerendahan hati.
Bukan untuk merasa suci,
tapi untuk terus belajar.
Karena melawan diri sendiri
adalah perjuangan seumur hidup.
Dan Ramadhan
hanya mengingatkan kita
bahwa perjuangan itu memang ada—
dan layak diperjuangkan.

0 Komentar