Doa di Antara Asap Rokok dan Azan Magrib

 

Doa di Antara Asap Rokok dan Azan Magrib

Ia duduk di teras rumah kontrakannya yang sempit,
menatap langit yang perlahan berubah warna.

Di tangannya, sebatang rokok.
Belum dinyalakan.
Hanya diputar-putar di antara jari, seperti benda yang salah berada di waktu yang suci.

Ia berpuasa hari itu.
Seperti kemarin.
Seperti niatnya untuk besok.

Namun menjelang magrib selalu menjadi jam yang paling berat.


Asap belum ada,
tapi keinginannya sudah terasa memenuhi dada.

Bukan sekadar nikotin yang ia rindukan,
melainkan jeda.
Diam sejenak dari pikiran yang tidak pernah benar-benar istirahat.

Ia tahu aturan.
Ia tahu larangan.
Ia hafal ceramah-ceramah tentang puasa yang sempurna.

Dan justru karena itu,
rasa bersalah datang lebih cepat dari azan.


Dari kejauhan, suara anak-anak berlari.
Piring dan sendok mulai saling beradu dari rumah tetangga.
Aroma gorengan menyusup pelan,
mengingatkan bahwa hari hampir selesai.

Ia menarik napas panjang.
Menatap rokok itu lagi.

“Sebentar lagi,” gumamnya.
Entah pada rokok itu,
atau pada dirinya sendiri.


Azan magrib akhirnya terdengar.

Lembut.
Tenang.
Tidak menghakimi.

Ia tidak langsung menyalakan rokok.
Tidak juga segera minum.

Ia diam.
Mendengarkan setiap lafaz yang mengalir di udara sore.

Dan di antara jeda azan,
ia berdoa—
doa yang tidak pernah ia susun dengan rapi.

“Tuhan…
aku masih berpuasa hari ini.
Meski niatku sering goyah.
Meski kepalaku penuh,
dan tanganku gemetar.”

Doanya sederhana.
Tidak puitis.
Tidak fasih.


Air matanya tidak jatuh.
Tapi dadanya terasa sedikit lebih lapang.

Ia akhirnya meneguk air putih.
Pelan.
Seolah takut mengganggu sesuatu yang baru saja tumbuh di dalam dirinya.

Rokok itu masih di tangannya.
Belum juga dinyalakan.


Ia tahu,
barangkali suatu hari ia akan kembali kalah.
Mungkin besok.
Mungkin lusa.

Namun hari ini,
di antara azan magrib dan keinginan yang belum sempat menyala,
ia merasa Tuhan tidak menjauh.

Tidak marah.
Tidak pergi.

Hanya menunggu—
seperti senja yang sabar berubah menjadi malam.


 

Posting Komentar

0 Komentar