Aku dan Jam Dinding yang Berhenti Berdetak

 
Aku dan Jam Dinding yang Berhenti Berdetak

 

Waktu tidak selalu bergerak maju. Kadang, ia hanya berhenti… menunggu.

Jam dinding di ruang tamu berhenti berdetak sejak tiga hari lalu.

Awalnya aku mengira baterainya habis. Jam tua itu memang sudah ada sejak aku kecil—hadiah pernikahan orang tuaku, kata ibu. Bingkainya kayu, kacanya sedikit buram, dan detiknya selalu terdengar lebih keras saat malam.

Tik.
Tik.
Tik.

Suara itu dulu sering menggangguku saat belajar. Sekarang, aku justru menyadari betapa anehnya rumah ini tanpa suara itu.

Aku mengganti baterainya.

Jarum detik bergerak sebentar… lalu berhenti lagi. Tepat di angka dua belas.

Aku mengernyit, tapi tidak terlalu memikirkannya. Sampai malam itu, telepon dari rumah sakit datang.

Tetangga kami, Pak Darman, meninggal dunia. Mendadak. Jantung.

Aku berdiri lama menatap jam dinding.

Jarum detik tetap diam.

Keesokan harinya, jam itu kembali berdetak sendiri. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Tik.
Tik.
Tik.

Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanya kebetulan. Pikiran manusia memang pandai menghubungkan hal-hal yang seharusnya tidak berhubungan.

Sampai kejadian kedua.

Aku pulang larut malam. Rumah gelap dan sunyi. Begitu aku menyalakan lampu ruang tamu, suara yang kutunggu tidak ada.

Jam itu berhenti lagi.

Dadaku mengeras.

Ponselku bergetar beberapa menit kemudian. Pesan singkat dari seorang teman: “Dengar kabar? Bu Ratna meninggal sore ini.”

Aku duduk di lantai.

Aku mulai takut pada benda yang dulu kuanggap bagian dari rumah.

Sejak malam itu, aku mulai memperhatikan. Setiap kali jam itu berhenti, kabar kematian selalu menyusul. Tidak selalu orang dekat. Kadang tetangga jauh. Kadang hanya nama di berita lokal.

Jam itu seperti menarik napas… lalu berhenti… lalu seseorang pergi.

Aku ingin membuangnya. Memecahkannya. Tapi tanganku selalu berhenti di udara. Ada sesuatu yang menahanku—rasa takut, atau rasa ingin tahu.

Suatu malam, aku terbangun karena rumah terasa terlalu sunyi.

Tidak ada suara detik.

Aku tahu sebelum melihat.

Jam itu berhenti.

Dan kali ini, tidak ada telepon yang masuk. Tidak ada pesan. Tidak ada kabar.

Jam menunjukkan pukul 02.17.

Aku menatapnya lama. Jantungku berdetak keras, seolah mencoba menggantikan suara yang hilang.

Aku duduk di sofa hingga pagi, menunggu sesuatu terjadi.

Tidak ada apa-apa.

Siang harinya, aku mulai merasa pusing. Tubuhku lemah. Napasku pendek. Aku mengira hanya kelelahan, sampai dadaku terasa seperti diremas dari dalam.

Aku teringat jam itu.

Aku menatapnya untuk terakhir kali sebelum semuanya menjadi gelap.

Jam itu berhenti… di waktu yang sama.

Sekarang rumah ini sunyi.

Jam itu masih tergantung di dinding. Tidak berdetak. Tidak rusak. Hanya diam.

Dan anehnya, aku tidak lagi takut.

Karena mungkin…

jam itu tidak pernah menandai kematian orang lain.

Ia hanya menunggu giliranku.

 

Posting Komentar

0 Komentar