Di zaman ini, menjadi Muslim sering kali terasa
mudah.
Nama Islam tercantum di KTP.
Simbol-simbolnya hadir di media sosial, di baliho, di slogan-slogan.
Namun pertanyaannya
bukan lagi siapa yang Muslim,
melainkan bagaimana Islam itu dijalani.
Karena ada perbedaan
besar antara menjadikan Islam sebagai identitas,
dan menjadikannya sebagai jalan hidup.
Ketika Islam diperlakukan sebagai identitas,
ia mudah tersinggung.
Sedikit kritik
dianggap ancaman.
Sedikit perbedaan dipandang sebagai penyimpangan.
Agama lalu berdiri di barisan paling depan—bukan untuk menenangkan,
melainkan untuk menyerang.
Identitas selalu
ingin dibela,
karena ia melekat pada ego.
Maka tak heran jika
atas nama Islam,
orang bisa marah, menghina, bahkan melukai—
tanpa sempat bertanya apakah tindakannya mencerminkan ajaran Islam itu sendiri.
Berbeda dengan jalan hidup.
Islam sebagai jalan
hidup bekerja dalam diam.
Ia membentuk cara kita bersikap,
cara kita memperlakukan orang lain,
cara kita menahan diri ketika punya kuasa untuk menyakiti.
Islam yang hidup
tidak selalu tampak lantang.
Ia hadir dalam kejujuran kecil,
dalam kesediaan meminta maaf,
dalam keberanian mengakui salah.
Ia tidak sibuk
terlihat benar.
Ia sibuk menjadi baik.
Kita hidup di masa ketika masjid penuh,
tapi empati sering kosong.
Ibadah dikerjakan
bersama-sama,
namun kepedulian sering tertinggal.
Bukan berarti ritual
tidak penting.
Ia fondasi.
Namun ketika ritual
berdiri sendiri tanpa akhlak,
agama berubah menjadi formalitas—
indah dari luar, rapuh di dalam.
Rasulullah ï·º tidak
dikenal pertama-tama karena simbol,
melainkan karena akhlaknya.
Karena kejujurannya.
Karena kemampuannya merangkul, bukan mengusir.
Ramadhan datang setiap tahun
bukan hanya untuk mengatur jam makan,
tetapi untuk menguji ke mana arah iman kita.
Apakah puasa membuat
kita lebih rendah hati,
atau justru lebih mudah menghakimi?
Apakah ibadah
mendekatkan kita pada manusia,
atau menjauhkan kita dari mereka yang berbeda?
Ramadhan tidak hanya
bertanya
berapa kali kamu shalat,
tetapi juga
bagaimana caramu memperlakukan sesama.
Islam tidak turun untuk menjadi label.
Ia turun untuk menjadi cahaya—
di rumah, di pasar, di tempat kerja, di ruang-ruang paling sederhana.
Menjadi Muslim bukan
soal memenangkan perdebatan,
melainkan tentang menjaga lisan, sikap, dan niat.
Bukan tentang
terlihat paling benar,
melainkan tentang berusaha paling jujur.
Mungkin kita tidak perlu sibuk membela Islam
jika kita benar-benar menjalaninya.
Karena Islam yang
hidup dalam akhlak
tidak butuh teriakan.
Ia cukup berjalan
pelan,
konsisten,
dan setia pada nilai-nilai kemanusiaan
yang sejak awal ia bawa.
Dan di sanalah,
Islam kembali menjadi jalan—
bukan sekadar identitas.

0 Komentar