Aku berpuasa hari ini.
Tidak makan. Tidak minum. Tidak merokok.
Tubuhku patuh.
Namun entah mengapa,
hatiku tidak ikut berpuasa.
Ia tetap ribut.
Dipenuhi suara-suara kecil yang saling bersahutan—
tentang masa lalu, tentang penyesalan, tentang hal-hal yang tidak sempat
kuucapkan kepada orang-orang yang sudah pergi.
Aku menahan lapar,
tapi pikiranku berkeliaran ke mana-mana.
Pagi tadi aku sahur
dengan tenang.
Niatku jelas.
Jam dinding berdetak pelan, seolah menghormati kesunyian.
Tapi setelah subuh,
kepalaku mulai ramai.
Ada suara yang
bertanya mengapa aku masih di titik yang sama.
Ada ingatan lama yang muncul tanpa izin.
Ada doa-doa yang tidak lagi terasa sakral, hanya rutinitas yang kuulang karena
takut meninggalkannya.
Aku tetap berpuasa.
Tentu saja.
Tapi hatiku seperti pasar yang lupa tutup.
Di siang hari, ketika
panas menempel di kulit,
aku berpikir:
mungkin beginilah puasa yang sebenarnya.
Bukan tentang menahan
makan,
tapi tentang menyadari betapa sulitnya menahan diri dari diri sendiri.
Dari pikiran yang
berisik.
Dari emosi yang tidak selesai.
Dari luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Aku shalat.
Gerakanku rapi.
Bacaanku lancar.
Namun di antara
ayat-ayat itu,
aku masih memikirkan hal-hal duniawi:
tentang uang, tentang masa depan, tentang orang yang tidak membalas pesan.
Aku merasa bersalah.
Lalu aku ingat—
tidak semua yang jujur itu dosa.
Menjelang magrib,
langit perlahan berubah warna.
Hatiku masih berisik,
tapi aku lelah melawannya.
Maka hari ini,
aku tidak meminta hatiku diam.
Aku hanya memintanya
jujur.
Mungkin puasa tidak
selalu datang untuk menenangkan.
Kadang ia datang hanya untuk memperlihatkan isi batin yang selama ini kita
hindari.
Dan jika hari ini aku
berpuasa
dengan hati yang masih ribut,
aku berharap Tuhan tidak menolakku hanya karena itu.
Karena aku tetap di
sini.
Masih berpuasa.
Masih menunggu azan.
Masih berharap, meski dengan suara-suara yang belum juga reda.

0 Komentar