Aku pertama kali menyadarinya
pada suatu pagi yang biasa saja.
Angkot
biru muda itu selalu penuh setengah—tidak pernah benar-benar ramai, tidak
pernah benar-benar sepi. Rutenya pendek, hanya menghubungkan pasar tua dengan
terminal kecil di pinggir kota. Aku menaikinya hampir setiap hari, jam yang
sama, kursi yang hampir selalu sama.
Dan
selalu ada satu kursi yang tidak pernah berubah penghuninya.
Kursi
paling belakang, di sisi kanan.
Di
sanalah ia duduk.
Seorang
pria tua dengan kemeja lusuh berwarna cokelat, topi hitam yang tampak terlalu
besar untuk kepalanya, dan tas kain yang selalu diletakkan rapi di pangkuan.
Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, seperti seseorang yang sudah terlalu
lama berdamai dengan kesunyian.
Kami
tidak pernah berbicara.
Ia
naik dari halte yang sama denganku, turun dua pemberhentian sebelum terminal.
Setiap hari. Tanpa absen. Bahkan saat hujan turun deras atau matahari menyengat
terlalu kejam.
Awalnya
aku tak peduli. Di kota ini, orang-orang belajar untuk tidak saling bertanya.
Tapi lama-kelamaan, keberadaannya menjadi semacam penanda waktu—jika aku
melihatnya duduk di sana, berarti hariku masih berjalan normal.
Aku
mulai memperhatikannya lebih saksama.
Ia
selalu membayar dengan uang pas.
Ia selalu mengucapkan terima kasih pada sopir dengan suara pelan.
Ia selalu menunggu semua penumpang turun lebih dulu sebelum berdiri.
Dan
ia selalu memilih kursi paling belakang.
Suatu
hari, angkot agak lebih sepi dari biasanya. Aku duduk dua baris di depannya.
Saat kendaraan melambat karena lampu merah, aku mencuri pandang lewat pantulan
kaca.
Mata
kami bertemu.
Ia
tersenyum tipis.
Senyum
yang aneh—bukan senyum orang bahagia, melainkan senyum seseorang yang sudah
terlalu lama menahan sesuatu. Aku membalasnya, canggung, lalu segera
memalingkan wajah.
Itu
satu-satunya interaksi kami.
Hari-hari
berikutnya berjalan seperti biasa. Sampai suatu pagi, aku naik angkot itu dan
kursi paling belakang… kosong.
Aku
mengira ia terlambat.
Tapi
satu halte berlalu. Dua. Ia tidak naik.
Entah
kenapa, dadaku terasa tidak enak. Perasaan sepele yang tak seharusnya muncul
untuk seseorang yang bahkan tidak kukenal.
Keesokan
harinya, kursi itu tetap kosong. Dan hari berikutnya juga sama.
Pada
hari keempat, aku akhirnya bertanya pada sopir.
“Pak,
biasanya ada bapak tua yang duduk di belakang… kok nggak kelihatan lagi?”
Sopir
itu terdiam sejenak, matanya tetap mengawasi jalan.
“Oh…
kamu kenal beliau?”
Aku
menggeleng. “Nggak. Cuma sering ketemu.”
Sopir
menarik napas panjang. “Beliau meninggal, Nak. Dua hari lalu.”
Aku
menelan ludah.
“Meninggal?”
“Iya.
Jantung. Katanya, malam sebelumnya masih pulang naik angkot ini juga. Duduk di
belakang, seperti biasa.”
Tanganku
terasa dingin. “Kenapa… kenapa beliau selalu duduk di belakang, Pak?”
Sopir
tersenyum pahit, seolah pertanyaan itu sudah lama tersimpan.
“Karena
dulu, di kursi depan itu, istrinya duduk.”
Aku
terdiam.
“Setiap
hari mereka naik bareng. Istrinya cerewet, suka ingetin jangan lupa obat,
jangan lupa makan. Suatu hari, istrinya meninggal di perjalanan. Tepat di
angkot ini.”
Aku
tak tahu harus berkata apa.
“Sejak
itu,” lanjut sopir pelan, “beliau nggak pernah mau duduk di depan lagi.
Katanya, biar kenangan itu tetap di sana… dan dia cukup melihat dari jauh.”
Angkot
melaju perlahan, suara mesinnya terdengar lebih berat dari biasanya.
Aku
menoleh ke kursi paling belakang.
Kosong.
Tapi entah kenapa, rasanya tidak benar-benar kosong.
Sejak
hari itu, setiap kali naik angkot, aku selalu menyisakan pandanganku ke kursi
tersebut. Dan setiap kali duduk di sana kosong, aku belajar satu hal kecil:
Tidak
semua orang memilih tempat paling belakang karena ingin sendiri.
Sebagian orang duduk di sana karena hatinya sudah terlalu penuh.

0 Komentar