Aku mulai menulis blog itu tanpa
harapan apa pun.
Awalnya
hanya pelarian—dari pekerjaan yang terasa hampa, dari malam-malam yang terlalu
sunyi, dari perasaan menjadi manusia yang berjalan tapi tak benar-benar hidup.
Blogspot gratisan, template standar, tanpa logo, tanpa ambisi. Judulnya pun biasa
saja: Catatan Tengah Malam.
Tak
ada yang membacanya.
Statistik
pengunjung selalu menunjukkan angka yang sama: nol, satu, kadang dua—dan aku
yakin satu di antaranya adalah aku sendiri, membuka ulang tulisanku hanya untuk
memastikan bahwa aku masih ada.
Aku
menulis setiap malam, hampir selalu lewat tengah malam. Ada sesuatu tentang
jam-jam gelap itu yang membuat kejujuran terasa lebih mudah keluar. Aku menulis
tentang lelah, tentang mimpi yang berhenti di tengah jalan, tentang rasa iri
pada orang-orang yang tampak tahu arah hidup mereka.
Dan
selama hampir tiga bulan, tak pernah ada komentar.
Sampai
suatu malam, tepat pukul 02.17.
Aku
baru saja mempublikasikan tulisan berjudul “Aku
Tidak Baik-Baik Saja, Tapi Tidak Ada yang Perlu Tahu”. Aku menutup laptop,
bersiap tidur, ketika ponselku bergetar pelan.
Notifikasi
email.
Komentar baru di blog Anda.
Aku
mengernyit. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat—perasaan yang aneh, seolah
seseorang baru saja mengetuk pintu rumah yang lama tak dikunjungi.
Komentarnya
singkat.
“Kamu tidak sendirian. Tidak semua orang yang diam itu kuat, dan itu tidak apa-apa.”
Tanpa
nama. Tanpa foto profil. Hanya tertulis: Anonymous.
Entah
kenapa, dadaku terasa hangat. Aku membaca ulang kalimat itu berkali-kali. Komentar
sederhana, tapi tepat sasaran—terlalu tepat untuk seseorang yang tak
mengenalku.
Aku
membalasnya malam itu juga, meski tak tahu apakah ia akan pernah kembali.
Terima kasih. Aku tidak tahu siapa kamu, tapi kata-katamu sampai.
Aku
tidur dengan perasaan yang berbeda malam itu. Lebih ringan.
Sejak
malam itu, komentar itu datang lagi.
Selalu
pukul 02.17.
Kadang
satu kalimat. Kadang dua. Tak pernah panjang, tapi selalu terasa seperti
ditulis oleh seseorang yang membaca tulisanku bukan dengan mata, melainkan dengan
hati.
“Tidak semua luka perlu sembuh cepat.”
“Lelah bukan berarti kalah.”
“Menulis adalah caramu bernapas.”
Aku
mulai menunggu jam itu.
Aku
mulai menulis bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi untuk seseorang yang entah
siapa—yang selalu hadir dalam diam, yang tak pernah menuntut balasan, yang tak
pernah memperkenalkan diri.
Aku
mencoba bertanya suatu malam.
“Kenapa kamu selalu datang jam 02.17?”
Jawabannya
baru muncul keesokan malam, tetap di jam yang sama.
“Karena itu satu-satunya waktu aku bisa benar-benar jujur.”
Aku
tersenyum sendirian di kamar yang gelap.
Hari-hariku
mulai berubah. Aku lebih rajin menulis, lebih jujur. Aku menunggu komentar itu
seperti orang menunggu surat dari sahabat lama. Anehnya, meski kami tak pernah
bertukar nama, aku merasa dikenal—lebih dikenal daripada oleh siapa pun di
dunia nyata.
Aku
bahkan mulai menulis seolah berbicara langsung padanya.
Tentang
ibuku yang sakit tapi selalu bilang baik-baik saja.
Tentang pekerjaan yang tak pernah benar-benar kuinginkan.
Tentang mimpi menulis buku yang kupendam karena takut gagal.
Dan
setiap kali, ia selalu ada.
Sampai
suatu malam, aku menulis tentang ketakutanku yang paling dalam: takut menjadi
tidak berarti.
Tulisan
itu lebih panjang dari biasanya. Lebih jujur. Lebih rapuh.
Aku
menunggu.
Jam
menunjukkan 02.16.
Aku
menatap layar statistik, kolom komentar, halaman yang kupaksa refresh
berkali-kali.
02.17.
Tidak
ada apa-apa.
Aku
tertawa kecil. “Mungkin terlambat,” pikirku.
02.20.
02.30.
Tak
ada komentar.
Aku
tidur dengan perasaan aneh—bukan kecewa, lebih seperti kehilangan yang tak bisa
dijelaskan.
Keesokan
malamnya aku menunggu lagi.
02.17.
Kosong.
Malam
berikutnya juga sama.
Aku
mulai gelisah. Ada bagian dari diriku yang merasa bodoh—bergantung pada
seseorang yang bahkan mungkin tidak nyata. Tapi rasa kehilangan itu nyata.
Sunyi yang dulu terasa akrab kini terasa menekan.
Aku
menulis satu entri singkat.
“Aku harap kamu baik-baik saja.”
Tak
ada komentar.
Dua
hari kemudian, saat pagi masih basah oleh embun, aku membuka ponsel dan melihat
berita lokal yang lewat begitu saja di linimasa.
“Pria Ditemukan Meninggal di Rumah Kontrakan,
Diduga Akibat Penyakit Lama.”
Aku
hampir menggulirnya lewat. Tapi ada sesuatu yang membuatku berhenti.
Jam
perkiraan kematian: sekitar pukul 02.20
dini hari.
Aku
tidak tahu kenapa dadaku sesak. Aku membuka beritanya. Foto rumah kontrakan
sederhana. Lingkungan sepi. Tak ada keluarga yang disebutkan. Hanya satu detail
kecil yang membuat tanganku gemetar.
Disebutkan
bahwa korban dikenal sebagai sosok pendiam, sering terjaga hingga larut malam,
dan gemar menulis di laptop tuanya.
Aku
menutup ponsel.
Aku
membuka blog.
Aku
membuka kolom komentar.
Tak
ada yang baru.
Malam
itu, aku menulis dengan tangan gemetar. Judulnya: “Untuk Kamu yang Pernah Membaca Aku”.
Aku
menulis tentang seseorang yang datang tanpa nama, tanpa wajah, tapi
meninggalkan jejak di hidup orang lain. Tentang bagaimana kata-kata bisa
menjadi satu-satunya cara bertahan.
Aku
tidak tahu apakah ia pernah membaca tulisan terakhirku.
Tapi
tepat sebelum menutup laptop, satu komentar baru muncul.
Jam
menunjukkan 02.17.
“Terima kasih sudah menulis. Sekarang giliran kamu untuk tetap hidup.”
Itu
komentar terakhir.
Tak
pernah ada lagi setelahnya.
Dan
sejak malam itu, aku terus menulis—bukan lagi untuk mengisi sepi, tapi untuk
menjaga janji pada seseorang yang pernah hadir di jam paling sunyi dalam
hidupku.

0 Komentar