Perang Terpendek dalam Sejarah Dunia: Konflik 45 Menit yang Mengguncang Zanzibar

 

Perang Terpendek dalam Sejarah Dunia: Konflik 45 Menit yang Mengguncang Zanzibar

Pagi itu, 27 Agustus 1896, langit Zanzibar belum sepenuhnya cerah. Angin laut Samudra Hindia berembus pelan, membawa aroma asin dan ketegangan yang tak kasat mata. Di pelabuhan, kapal-kapal perang Inggris berjejer rapi, meriamnya mengarah lurus ke istana kesultanan.

Tak ada sorak.
Tak ada teriakan perang.
Hanya diam yang menyesakkan—diam sebelum dunia berubah dalam hitungan menit.

Tak seorang pun di Zanzibar menyangka bahwa pagi itu akan tercatat dalam sejarah sebagai perang terpendek di dunia.


Sebuah Tahta yang Diperebutkan

Sehari sebelumnya, Sultan Zanzibar, Hamid bin Thuwaini, wafat secara mendadak. Kematian itu menimbulkan kekosongan kekuasaan yang berbahaya. Di bawah perjanjian dengan Inggris, setiap pengangkatan sultan harus mendapat persetujuan resmi dari pihak kolonial.

Namun, sebelum izin itu turun, seorang pria bernama Khalid bin Barghash bergerak cepat.

Dalam gelap malam, ia memasuki istana dan menyatakan dirinya sebagai Sultan Zanzibar.

Bagi Inggris, ini bukan sekadar pelanggaran administratif.
Ini adalah tantangan terbuka terhadap kekuasaan imperium.


Ultimatum yang Diabaikan

Pagi menjelang siang, seorang utusan Inggris menyampaikan ultimatum yang jelas dan dingin:

“Turun dari tahta sebelum pukul 09.00 pagi, atau kami akan menembak.”

Khalid menolak.

Di dalam istana, ratusan pengawal dan pendukungnya berkumpul. Senjata mereka sederhana: senapan tua, beberapa meriam kuno, dan keyakinan bahwa Inggris tidak akan berani menembak istana kerajaan.

Di luar, lima kapal perang Inggris sudah siap:

·         HMS St George

·         HMS Philomel

·         HMS Racoon

·         HMS Thrush

·         HMS Sparrow

Meriam-meriam modern itu diam, tapi siap memuntahkan api.

Jam menunjukkan 08.59.


Detik-Detik yang Mengubah Segalanya

Tepat pukul 09.00 pagi, tanpa aba-aba panjang, tembakan pertama dilepaskan.

Ledakan mengguncang udara.

Meriam Inggris menghantam istana dengan akurasi mematikan. Dinding runtuh. Atap terbakar. Api menjalar cepat, menciptakan kepulan asap hitam yang membumbung ke langit Zanzibar.

Pasukan Khalid membalas tembakan—namun senjata mereka tak sebanding. Meriam kuno mereka hancur sebelum sempat memberi perlawanan berarti.

Di pelabuhan, satu-satunya kapal perang Zanzibar tenggelam hanya dalam hitungan menit.

Warga sipil berlarian.
Teriakan panik bercampur debu dan asap.
Zanzibar berubah menjadi neraka singkat.


45 Menit yang Memalukan dan Mematikan

Pada pukul 09.45 pagi, semuanya berakhir.

Istana porak-poranda.
Sekitar 500 orang di pihak Zanzibar tewas atau terluka.
Di pihak Inggris? Hanya satu orang terluka ringan.

Khalid bin Barghash melarikan diri ke Konsulat Jerman, memohon perlindungan. Inggris tidak bisa menangkapnya karena wilayah itu berada di bawah hukum Jerman.

Perang itu—yang dimulai dengan dentuman meriam—berakhir tanpa upacara kemenangan.

Hanya reruntuhan dan keheningan yang tersisa.


Dunia yang Tak Seimbang

Perang Anglo-Zanzibar bukan tentang keberanian atau strategi jenius. Ia adalah gambaran telanjang tentang ketimpangan kekuatan kolonial.

Zanzibar tidak kalah karena salah langkah.
Ia kalah karena zaman telah berubah, dan mereka berdiri di sisi sejarah yang salah.

Perang ini menunjukkan bahwa dalam era imperium, sebuah negara bisa dihancurkan bukan dalam hitungan tahun, tapi menit.


Mengapa Perang Ini Jarang Dibahas?

Karena ia memalukan bagi banyak pihak.

Bagi Inggris, ini bukan kemenangan heroik—melainkan demonstrasi kekuasaan brutal.
Bagi Zanzibar, ini luka kolonial yang lebih sering dibungkam daripada dikenang.

Sejarah dunia sering memilih cerita yang epik dan panjang.
45 menit terlalu singkat untuk romantisasi, tapi terlalu kejam untuk dilupakan.


Ketika Sejarah Ditentukan oleh Menit

Perang terpendek dalam sejarah dunia mengajarkan satu hal penting:
panjang perang tidak menentukan besarnya dampak.

Dalam 45 menit, sebuah pemerintahan runtuh.
Dalam 45 menit, dunia melihat bagaimana kekuatan global bekerja.
Dan dalam 45 menit, Zanzibar masuk ke dalam buku sejarah—tanpa pernah diberi pilihan.

Sejarah tidak selalu ditulis dengan darah bertahun-tahun.
Kadang, ia ditulis dengan dentuman meriam dan jarum jam yang terus bergerak.


 

Posting Komentar

0 Komentar