Aku menulis surat ini bukan untuk siapa-siapa.
Bukan untuk mantan, bukan untuk orang tua, bukan
untuk dunia yang tak pernah benar-benar peduli. Aku menulis surat ini untuk
satu orang yang paling sering kuabaikan: diriku sendiri.
Diriku yang dulu.
Yang pernah percaya bahwa hidup adalah sesuatu yang
bisa diperjuangkan, bukan sekadar dijalani. Yang pernah bermimpi tanpa rasa
malu. Yang pernah mengira kegagalan hanyalah jeda, bukan akhir.
Aku lupa sejak kapan semua itu pelan-pelan
menghilang.
Mungkin sejak aku mulai bekerja dan menyadari bahwa
idealisme tidak membayar sewa.
Atau sejak aku belajar tersenyum di depan orang lain meski hatiku kosong.
Atau mungkin sejak aku terlalu sering berkata, “nanti saja”, sampai
mimpi itu sendiri lelah menunggu.
Jika kamu membaca surat ini—meski aku tahu kamu
sudah lama tidak pernah membuka lembaran hidup dengan penuh harap—aku ingin
kamu tahu satu hal: aku tidak marah padamu.
Aku lelah, tapi tidak marah.
Aku tahu kamu dulu ingin menjadi banyak hal.
Penulis, mungkin. Atau seseorang yang hidup dengan makna, bukan hanya
rutinitas. Kamu pernah percaya bahwa kata-kata bisa menyelamatkanmu, bahwa
kerja keras pasti menemukan jalannya.
Sekarang, aku bangun pagi hanya untuk mengulang
hari yang sama.
Aku menjalani hidup seperti membaca buku yang tidak
lagi kupahami, tapi tetap kupaksa tamatkan. Aku bekerja, pulang, tidur, lalu
mengulanginya lagi. Dan setiap kali ada suara kecil di kepala yang bertanya, “Apa
ini hidup yang kamu inginkan?”, aku pura-pura tidak mendengarnya.
Maafkan aku.
Aku tidak menyerah, aku hanya… berhenti berharap
terlalu tinggi. Dunia terasa terlalu keras untuk orang yang terlalu percaya.
Aku belajar menurunkan ekspektasi, bukan karena bijak, tapi karena takut
kecewa.
Aku ingat kamu.
Kamu yang bisa duduk berjam-jam menulis tanpa
peduli waktu.
Kamu yang berani gagal dan tetap tersenyum.
Kamu yang yakin suatu hari namamu akan berarti, meski hanya bagi satu orang.
Sekarang aku lebih sering menunda daripada mencoba.
Aku lebih mahir mencari alasan daripada peluang. Aku bilang pada diri sendiri
bahwa mimpi itu kekanak-kanakan, padahal sebenarnya aku hanya takut gagal lagi.
Jika kamu bertanya apakah aku bahagia, aku tidak
tahu jawabannya.
Aku baik-baik saja—itu kalimat yang paling sering kugunakan.
Tapi kita sama-sama tahu, baik-baik saja sering kali hanya cara paling
sopan untuk mengatakan aku lelah.
Aku kehilangan banyak hal dalam perjalanan menjadi
dewasa. Waktu, keberanian, dan sebagian diriku sendiri. Tapi yang paling
menyakitkan adalah kehilangan keyakinan bahwa hidup ini bisa lebih dari sekadar
bertahan.
Namun, jika ada satu hal yang ingin aku sampaikan
padamu malam ini, ini dia:
Aku masih menulis.
Meski tidak seintens dulu.
Meski tidak seberani dulu.
Meski kadang hanya satu paragraf di tengah malam.
Mungkin itu caraku meminta maaf padamu.
Aku tidak berjanji akan kembali menjadi kamu
sepenuhnya. Aku tidak tahu apakah mimpi-mimpi itu masih bisa dikejar, atau
hanya layak dikenang. Tapi aku ingin mencoba satu hal kecil: tidak mematikan semuanya.
Jika suatu hari kamu merasa aku terlalu pengecut,
ingatlah bahwa aku masih di sini. Masih hidup. Masih berusaha bernapas di
antara hari-hari yang terasa datar.
Dan mungkin, suatu hari nanti, kita bisa bertemu
lagi—bukan sebagai orang yang sama, tapi sebagai versi yang saling memahami.
Terima kasih karena pernah bermimpi untukku.
Aku akan mencoba tidak menyia-nyiakannya
sepenuhnya.
Salam,
Dirimu yang masih belajar bertahan.

0 Komentar