![]() |
2013 |
Sedikitnya sampai hari ini, aku membaca banyak komentar,
postingan, serta beragam seluk beluk canda yang memanas. Banyak sekali masalah,
ada yang hilang entah ke mana, ada pula yang sok sibuk tanpa tindakan. Mungkin,
menurutku itu adalah hal biasa. Sering terjadi debat panjang, namun tanpa ada
solusi. Harus bagaimana? Terus ditutup-tutupi atau malah dilupakan. Tidak
terlalu aku mengerti, ingin rasanya ikut berperan, tapi benar tidak kumengerti.
Entahlah, bagiku semua masalah itu belum selesai.
Pernah terjadi debat kusir yang melibatkanku di dalamnya.
Aku cukup memanas, meskipun banyak canda yang aku lontarkan. Ya, sebab aku yang
bukan siapa-siapa sekarang masih peduli, kenapa dia yang malah merasa bodo amat! Tentu saja ini perkaraku,
tempatku meraih banyak hal dibuat seperti kuburan moyangnya. Dibiarkan
berlumut, dipenuhi reptil langka, serta dijadikan tempat iblis berdiskusi.
Sempat disinggung pula soal produktifitas, aku tersenyum. Disebutnya aku tak
aktif, tentu saja. Jadi apa yang dipermasalahkan? Aku hanya ingin tempat indah
itu kembali menjadi sumur untuk kita yang haus akan kepenulisan! Itu saja.
Sejujurnya aku menangis, setiap berita buruk yang menyambar.
Tidak ada yang bisa aku lakukan. Persis yang aku katakan tadi, aku lemah tanpa
dampingan saudara-saudaraku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah,
menahan air mata di meja kerjaku, sudahlah! Memang nyatanya aku tidak bisa.
Harus bagaimana? Meski ke mana? Jadilah sampah di hamparan tempat terbuka.
Sebenarnya, aku ingin sekali ada tugas untukku dari sana. Setidaknya ada yang
dapat aku lakukan untuk selama ini. Meskipun jauh sekali rasanya tercapai. Ya,
aku paham. Akan berat menerimaku secara nyata. Maka aku menguburnya sejenak
waktu. Sampai aku datang. Hari ini aku tidak bisa. Memang seperti itu kenyataannya.
Tiga belas tahun, dalam satu tahun aku bergelut. Perasaan
bangga terlalu besar untuk dibanggakan. Cinta yang tertanam, mungkin sudah
menyentuh langit. Harapan yang tersirat, barangkali terus bertambah per
detiknya. Seiring rotasi yang menghadiahkan pagi, pada senja yang merelakan
malam. Aku sangat mengagumkan nama itu, wahai semesta! Meskipun belum ada yang
bisa aku tunjukan secara nyata. Baik secara kerja, maupun hasil yang aku
peroleh. Dan tentang selama ini, itu belum cukup, terlalu besar jasa yang harus
aku bayar. Aku berutang seumur hidup untuk berucap terima kasih. Barakallah, FLP Aceh!
Bandung, 11 Maret 2014
4 komentar
ngeri lii bhs bg nazri.. thumbs up! (o)
ReplyDeleteHehe, apanya yang ngeri, Isra?
DeleteNazriiii, aq terharu bacanya. Seandainya Nazri ada di sini, kekar lah FLP untuk mendobrak omongan itu. Nazriiii, pulaang pulaaang. ;-(
ReplyDeleteTp, skrang khdiran Nazri terasa lewat web, mksih bnyak ya Nazri. :)
:-d
Delete