Ada hari-hari ketika
iman terasa begitu dekat.
Doa mengalir tanpa dipaksa, air mata mudah jatuh, dan Tuhan seakan duduk tidak
jauh dari dada.
Namun ada juga
hari-hari lain—dan jumlahnya sering lebih banyak—ketika iman terasa berat.
Shalat dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban.
Puasa dijalani, tapi hati tetap berisik.
Doa terucap, tapi rasanya kosong.
Banyak dari kita tumbuh
dengan keyakinan diam-diam bahwa iman seharusnya
stabil.
Bahwa seorang Muslim yang “baik” tidak boleh ragu, tidak boleh lelah, tidak
boleh merasa jauh dari Tuhan.
Dan ketika iman kita naik-turun, kita mulai merasa bersalah—bahkan takut.
Padahal, iman yang
tidak stabil bukanlah dosa.
Ia justru bukti bahwa kita manusia.
Jika iman memang
ditakdirkan stabil, barangkali para nabi adalah orang-orang pertama yang
memilikinya secara sempurna.
Namun sejarah justru menunjukkan sebaliknya.
Nabi Ibrahim pernah
bertanya tentang bagaimana Tuhan menghidupkan yang mati—bukan karena ia kafir,
tapi karena ingin hatinya tenang.
Nabi Musa pernah merasa takut dan ragu di hadapan kaumnya.
Bahkan Rasulullah ï·º sendiri mengalami masa-masa berat yang membuat wahyu
terhenti sementara, hingga beliau merasa sedih dan bertanya-tanya.
Islam tidak lahir
dari manusia tanpa kegelisahan.
Ia justru tumbuh dari pertanyaan, ketakutan, harapan, dan luka.
Maka jika imanmu hari
ini terasa goyah, kamu tidak sedang keluar dari Islam.
Kamu sedang berada di dalam pengalaman manusiawi yang diakui Islam.
Kita sering
membayangkan iman seperti grafik yang seharusnya terus menanjak:
lebih rajin, lebih khusyuk, lebih suci.
Padahal iman lebih
mirip gelombang.
Kadang tinggi, kadang surut.
Kadang menghantam kuat, kadang nyaris menghilang di kejauhan.
Para ulama klasik
bahkan membahas fatrah—masa jeda
spiritual—sebagai sesuatu yang wajar.
Saat hati lelah, semangat ibadah menurun, dan dunia terasa terlalu berat untuk
ditafsirkan secara religius.
Masalahnya bukan pada
turunnya iman.
Masalahnya adalah ketika kita menganggap penurunan itu sebagai kegagalan moral.
Ada perbedaan besar
antara bertanya dan menolak.
Antara bingung dan membangkang.
Banyak orang takut
mengakui keraguan karena khawatir dicap kurang iman.
Padahal keraguan sering kali bukan bentuk pembangkangan, melainkan jeritan hati
yang ingin memahami.
Iman yang tidak
pernah ditanya biasanya rapuh.
Ia bertahan bukan karena dipahami, tapi karena diwariskan tanpa dialog.
Islam tidak alergi
pada akal.
Ia justru mengundang manusia untuk berpikir, merenung, dan bertanya—selama
pertanyaan itu jujur.
Ramadhan sering
dipromosikan sebagai bulan penyembuh.
Seakan-akan puasa otomatis membuat semua orang damai.
Kenyataannya tidak
selalu demikian.
Ada orang yang
berpuasa sambil memikul trauma.
Ada yang menahan lapar, tapi tidak bisa menahan kesepian.
Ada yang rajin tarawih, tapi pulang ke rumah yang sunyi dan tidak ramah.
Puasa tidak menghapus
luka.
Ia hanya mempertemukan kita dengannya.
Dan itu tidak haram.
Sering kali kita
merasa Tuhan menjauh saat iman melemah.
Padahal bisa jadi, kitalah yang terlalu keras pada diri sendiri.
Tuhan tidak menuntut
iman yang sempurna.
Ia menerima langkah kecil, niat yang terseok, dan doa yang nyaris menyerah.
Kadang iman tidak
hadir dalam bentuk sujud panjang,
tapi dalam bentuk: “Tuhan, aku lelah, tapi
aku masih di sini.”
Dan itu sudah cukup.
Islam tidak meminta
kita menjadi malaikat.
Ia datang justru karena kita manusia—dengan seluruh ketidaksempurnaan,
kebingungan, dan jatuh-bangunnya.
Maka jika imanmu hari
ini tidak stabil,
jangan buru-buru membencinya.
Jangan menganggapnya sebagai tanda bahwa kamu gagal.
Bisa jadi, imanmu
sedang tumbuh dengan caranya sendiri—pelan, sunyi, dan tidak selalu indah.
Dan itu tidak haram.

0 Komentar