Tidak semua ayah pandai mengatakan cinta. Sebagian memilih menunjukkannya dengan pulang terlambat.
Ayah tidak pernah pulang tepat waktu.
Sejak aku kecil, itu sudah menjadi kebenaran yang
tak pernah berubah. Jam dinding bisa menunjukkan pukul enam sore, tujuh, bahkan
delapan malam—dan kursi di ruang makan tetap kosong. Ibu selalu bilang ayah
sedang di jalan, atau masih lembur, atau terjebak pekerjaan yang tak bisa
ditinggalkan.
Aku tumbuh dengan kebiasaan makan tanpa menunggu.
Saat teman-temanku bercerita tentang ayah mereka
yang pulang membawa oleh-oleh kecil, atau sekadar menepuk kepala sebelum tidur,
aku hanya mengangguk. Ayahku pulang ketika aku sudah mengantuk, dan pergi saat
aku masih terlelap.
Aku tidak membencinya. Tapi aku juga tidak
merindukannya.
Atau setidaknya, begitu yang kukira.
Ayah pulang dengan bau lelah yang selalu sama.
Bajunya kusut, sepatunya kotor, wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Ia
jarang bercerita. Jika ditanya bagaimana harinya, jawabannya selalu pendek.
“Biasa.”
Aku belajar untuk tidak bertanya lagi.
Saat remaja, aku mulai merasa kesal. Aku merasa
ayah memilih pekerjaan daripada keluarga. Ia melewatkan banyak hal: pembagian
rapor, lomba sekolah, ulang tahunku yang ke tujuh belas. Ia selalu berjanji
akan datang, dan selalu gagal menepatinya.
“Kerja terus, Pak,” kataku suatu malam, nadanya
lebih tajam dari yang kumaksud.
Ayah hanya diam.
Ibu menatapku, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi memilih menunduk.
Aku masuk kamar dengan pintu yang kututup keras.
Malam itu ayah pulang lebih larut dari biasanya.
Aku tahu karena aku belum tidur. Dari balik pintu kamar, kudengar suara
langkahnya yang berat, batuk kecil yang ia sembunyikan, dan suara ibu yang
bertanya pelan, “Capek?”
Aku tidak keluar.
Aku terlalu sibuk merasa menjadi anak yang tidak
dipilih.
Waktu berjalan seperti itu sampai aku dewasa. Aku
pergi dari rumah untuk bekerja. Aku pulang hanya sesekali. Dan setiap kali
pulang, ayah masih sama—tidak pernah benar-benar hadir, tidak pernah banyak
bicara.
Sampai suatu sore, ibu menelepon.
“Pulang ya,” katanya singkat.
“Nanti,” jawabku.
“Sekarang.”
Nada suaranya membuat dadaku tidak enak.
Ayah terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang
dan suara mesin yang asing. Tubuhnya terlihat lebih kecil dari yang kuingat.
Tangannya kurus, napasnya berat. Ia membuka mata saat aku masuk, dan untuk
pertama kalinya, ia tersenyum duluan.
“Kamu pulang,” katanya.
Aku mengangguk, tak tahu harus berkata apa.
Hari itu aku tahu.
Ayah bekerja di dua tempat. Siang dan malam. Ia
pulang terlambat karena selalu mengambil jam tambahan. Ia menolak cuti karena
setiap hari yang ia lewati adalah hari yang ia tukar dengan biaya sekolahku,
dengan obat ibu, dengan rumah yang tak pernah bocor.
Ia tidak pernah pulang tepat waktu karena ia sedang
membeli waktu untuk kami.
Aku duduk di samping ranjangnya. Tangannya dingin
saat kugenggam.
“Maaf,” kataku.
Ia menggeleng pelan.
“Ayah cuma tidak ingin kamu lelah seperti ayah.”
Aku menangis seperti anak kecil yang baru sadar
telah kehilangan sesuatu bahkan sebelum sempat memilikinya.
Ayah pergi dua hari kemudian.
Sekarang, setiap sore, aku selalu pulang tepat
waktu. Aku duduk di ruang makan yang sama, menatap kursi yang dulu selalu
kosong.
Dan akhirnya aku mengerti:
Ada orang-orang yang mencintai dengan cara yang
tidak terlihat.
Dan sering kali, kita baru memahami itu… ketika waktu tidak lagi memberi
kesempatan untuk menunggu.

0 Komentar