Hujan selalu datang tanpa bertanya.
Ia turun begitu saja, menyentuh atap, jendela, dan
ingatan—membangunkan hal-hal yang selama ini kukira sudah tidur dengan tenang.
Setiap kali hujan turun, aku tahu satu hal: aku akan menerima pesan itu.
Nomor tak dikenal.
Tanpa nama.
Tanpa foto.
Pesan pertama datang dua tahun lalu, pada malam
hujan yang biasa saja.
“Kamu masih suka teh manis hangat saat hujan?”
Aku menatap layar ponsel lama sekali. Tidak ada
orang yang menanyakan itu selain satu orang—dan orang itu sudah lama pergi dari
hidupku.
Aku tidak membalas.
Kupikir itu hanya kebetulan. Nomor salah. Atau
seseorang yang iseng. Tapi hujan berikutnya datang membawa pesan lain.
“Kamu selalu benci payung kecil. Katamu, hujan seharusnya dinikmati.”
Tanganku gemetar. Ingatan itu terlalu spesifik
untuk menjadi kebetulan.
Aku akhirnya membalas.
“Siapa ini?”
Pesan itu dibaca, tapi tak pernah dijawab.
Sejak malam itu, setiap hujan turun, satu pesan
akan datang. Selalu tentang hal-hal kecil. Hal-hal remeh yang hanya diketahui
oleh dua orang yang pernah saling mencintai dengan sangat bodoh dan sangat
tulus.
“Kamu pernah bilang, jika suatu hari kita berpisah, hujan akan mengingatkanmu padaku.”
“Kamu selalu menghitung detik sebelum lampu merah berubah hijau.”
“Kamu menulis namaku diam-diam di halaman terakhir buku.”
Aku tidak pernah tahu harus membalas apa. Kadang aku
membalas, kadang tidak. Dan pesan itu tetap datang—tanpa menuntut jawaban.
Aku mencoba melupakan.
Aku mengganti nomor. Aku memblokir kontak itu. Tapi
entah bagaimana, setiap hujan, pesan itu selalu menemukan jalannya. Nomor
berbeda, isi yang sama, nada yang sama.
Aku belajar untuk tidak bertanya lagi.
Hujan menjadi satu-satunya waktu di mana masa lalu
berani mengetuk pintu tanpa rasa bersalah.
Suatu malam, hujan turun lebih deras dari biasanya.
Kota tenggelam dalam cahaya lampu yang kabur. Ponselku bergetar.
“Aku pernah berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Tapi hujan selalu mengalahkanku.”
Dadaku terasa sesak.
Aku menulis balasan panjang malam itu—tentang
betapa aku sudah mencoba hidup tanpa bayangannya, tentang bagaimana aku belajar
tertawa dengan orang lain, tentang betapa aku lelah terus mengingat.
Aku menghapusnya.
Aku hanya mengirim satu kalimat.
“Kenapa kamu melakukan ini?”
Balasannya datang cepat.
“Karena ini satu-satunya cara aku masih bisa ada.”
Aku menangis tanpa suara.
Keesokan harinya, aku mencari tahu. Aku menelusuri
nama yang sudah lama kuhindari. Media sosial yang sudah lama tidak kubuka. Dan
di antara kabar lama dan foto buram, aku menemukan satu berita kecil.
Berita itu tidak viral. Tidak penting bagi siapa
pun kecuali aku.
Ia meninggal setahun lalu.
Kecelakaan.
Saat hujan.
Aku duduk lama menatap layar. Waktu seolah berhenti
bergerak.
Malam itu hujan turun lagi. Lebih pelan. Lebih
lembut.
Pesan terakhir datang.
“Aku tahu kamu sudah tahu sekarang.”
“Aku tidak ingin kamu menungguku.”
“Hujan cukup menjadi kenangan, bukan penjara.”
Aku menggenggam ponsel erat-erat.
“Apakah ini pesan terakhir?” tulisku.
Tiga titik muncul lama sekali. Lalu menghilang.
Tidak ada balasan.
Sejak malam itu, hujan tetap turun seperti biasa.
Membasahi kota, jalanan, dan orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang kenangan
yang pernah hidup di antara dua manusia.
Ponselku tidak pernah lagi bergetar karena nomor
tak dikenal.
Tapi setiap hujan datang, aku tahu: tidak semua
yang pergi benar-benar hilang. Sebagian hanya memilih menjadi kenangan—datang
sebentar, lalu pergi dengan diam.
Dan aku belajar satu hal kecil:
Tidak semua cinta ingin dimiliki kembali.
Sebagian hanya ingin dikenang… tanpa disakiti lagi.

0 Komentar