Apakah diriku gila? Terlalu munafikkah jiwa ini? Atau masih
sepantasnya hatiku diam? Tentang Suriah yang bukan lagi berita baru. Palestina
apalagi, sampai sekarang seluruh sistem keamanan di sana masih di tangan
zionis. Kau juga melihat mereka, wahai saudara-saudaraku! Mendengar
tangis-tangis saudaraku! Walaupun sudah berlalu seribu masa, aku yakin kita
belum saatnya berhenti sampai di sini.
Kabar berita dari Negeri Syam, aku terus menangis, bergetar hatiku
yang dikatakan munafik ini. Lantas, ke mana perginya jiwa-jiwa yang kalian
angggap sebagai muslim sejati? Apa mereka yang sedang gila dengan harta dan
jabatannya? MUI sampai hari ini tetap sibuk dengan fatwa-fatwanya. Tentu! Tentu
saja aku masih menghormati mereka yang di antaranya masih bisa tampil nyata
sebagai seorang ulama. Tetapi apa fungsinya kita sekarang? Saling salah
menyalahkan? Tidak wahai saudaraku, aku sama sekali tidak ingin menyalahkan
siapa-siapa. Sehingga sebatas rumor pecandu syiah hadir di dalam fatwanya dan
bersama NU tersebar pemikiran liberal. Persis isu agen bokep di lembaga sensor
film horor Indonesia.
Tidakkah kalian menyimak musuh-musuh islam di sekitar kita? Mulai dari
halaman hingga dapur rumah kita. Bahkan di atas tempat Anda berbaring ada yang
mencaci maki agama kita! Apalagi yang harus aku sesali? Ketika anak-anak muslim
mencium aroma bangkai di setiap lembar buku-buku yang disaji oleh negara ini.
Cukup aku mengenang, tentang toleransi yang dihanyutkan oleh ‘cinta kasih’ di
mata pelajaran PPKN sewaktu sekolah dasar. Ya, seperti para ikhwan yang
menganggap American Pie sebatas leluconnya.
Sudahkah kita sadari, ada ribuan manusia sejenis Fir’aun dan Abu
Lahab, serta Abu Jahal di negeri ini. Mengertikah kita? Ketika demokrasi
berarti kebebasan. Sebebas membagikan kondom untuk para pelajar dan mahasiswa.
Atau haruskah aku memenangkan debat, akibat dari pengenalan sex yang terlalu
dini, sebab televisi, bacaan, dan semua yang telah ditelanjangi. Salahkah? Aksi FPI yang sering dimaki-maki massa tatkala menghakimi
tempat maksiat! Sedangkan kita sibuk mengikuti seminar bahaya Aids/HIV dengan
langkah sebatas membagikan brosur di sekolah negeri. Lantas, lucukah pemikiran
cacat HAM? Ketika mengutuk pelaku bom Bali dan menyanjung-sanjungkan kebrutalan
Densus 88 membunuh para ‘tersangka’ teroris!
Lebih parah lagi program stasiun televisi dengan pembodohannya.
Menyajikan sinetron berlebel dakwah dengan mengakhiri skenario mayat
senonoh penuh belatung di dalam kuburan yang meletup. Atau masihkah berbangga?
Dengan departemen maksiat di dalam negeri yang melegalkan minuman keras atas
nama bea dan cukai atau demi kemajuan perdagangan dan pariwisata. Tidak ada
bedanya dengan kacung zionis yang melabui umat dalam setetes bir bintang nol
persen alkohol.
Belum juga aku temui hidayah, di dalam bacaan dan juga tontonan di
pagi hari. Dan terakhir kalinya aku pertanyakan. Dapatkah kau membayar air mata
yang basahi pipi ini? Mungkinkah kau mengerti amarah diri ini? Seperti akukah
yang terus tertinggal, dengan sorot tangisan lugu yang semakin tak terdengar.
Ketika agama dijadikan pasar, siapa berkuasa, siapa pula yang menjadi sampah?
Sama seperti debat terbuka tanpa menghasilkan solusi, seiring tawa lepas para
provokator. Maka tidak dapat dipahami lagi pembatas antara pahala dan dosa,
karena hukum di negeri ini sudah cukup untuk menjadi neraka.
Bandung, Januari 2014
Lanjutan
dari artikel File X yang disebar via email 2009-2012 silam
2 komentar
Perkuat iman untuk menangkal segala musuh Islam
ReplyDeleteInsya Allah
Delete