­
­

Sorot Tangisan Lugu

By Unknown - 8:52 am

Apakah diriku gila? Terlalu munafikkah jiwa ini? Atau masih sepantasnya hatiku diam? Tentang Suriah yang bukan lagi berita baru. Palestina apalagi, sampai sekarang seluruh sistem keamanan di sana masih di tangan zionis. Kau juga melihat mereka, wahai saudara-saudaraku! Mendengar tangis-tangis saudaraku! Walaupun sudah berlalu seribu masa, aku yakin kita belum saatnya berhenti sampai di sini.
Kabar berita dari Negeri Syam, aku terus menangis, bergetar hatiku yang dikatakan munafik ini. Lantas, ke mana perginya jiwa-jiwa yang kalian angggap sebagai muslim sejati? Apa mereka yang sedang gila dengan harta dan jabatannya? MUI sampai hari ini tetap sibuk dengan fatwa-fatwanya. Tentu! Tentu saja aku masih menghormati mereka yang di antaranya masih bisa tampil nyata sebagai seorang ulama. Tetapi apa fungsinya kita sekarang? Saling salah menyalahkan? Tidak wahai saudaraku, aku sama sekali tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Sehingga sebatas rumor pecandu syiah hadir di dalam fatwanya dan bersama NU tersebar pemikiran liberal. Persis isu agen bokep di lembaga sensor film horor Indonesia.
Tidakkah kalian menyimak musuh-musuh islam di sekitar kita? Mulai dari halaman hingga dapur rumah kita. Bahkan di atas tempat Anda berbaring ada yang mencaci maki agama kita! Apalagi yang harus aku sesali? Ketika anak-anak muslim mencium aroma bangkai di setiap lembar buku-buku yang disaji oleh negara ini. Cukup aku mengenang, tentang toleransi yang dihanyutkan oleh ‘cinta kasih’ di mata pelajaran PPKN sewaktu sekolah dasar. Ya, seperti para ikhwan yang menganggap American Pie sebatas leluconnya.
Sudahkah kita sadari, ada ribuan manusia sejenis Fir’aun dan Abu Lahab, serta Abu Jahal di negeri ini. Mengertikah kita? Ketika demokrasi berarti kebebasan. Sebebas membagikan kondom untuk para pelajar dan mahasiswa. Atau haruskah aku memenangkan debat, akibat dari pengenalan sex yang terlalu dini, sebab televisi, bacaan, dan semua yang telah ditelanjangi. Salahkah? Aksi FPI yang sering dimaki-maki massa tatkala menghakimi tempat maksiat! Sedangkan kita sibuk mengikuti seminar bahaya Aids/HIV dengan langkah sebatas membagikan brosur di sekolah negeri. Lantas, lucukah pemikiran cacat HAM? Ketika mengutuk pelaku bom Bali dan menyanjung-sanjungkan kebrutalan Densus 88 membunuh para ‘tersangka’ teroris!
Lebih parah lagi program stasiun televisi dengan pembodohannya. Menyajikan sinetron berlebel dakwah  dengan mengakhiri skenario mayat senonoh penuh belatung di dalam kuburan yang meletup. Atau masihkah berbangga? Dengan departemen maksiat di dalam negeri yang melegalkan minuman keras atas nama bea dan cukai atau demi kemajuan perdagangan dan pariwisata. Tidak ada bedanya dengan kacung zionis yang melabui umat dalam setetes bir bintang nol persen alkohol. 
Belum juga aku temui hidayah, di dalam bacaan dan juga tontonan di pagi hari. Dan terakhir kalinya aku pertanyakan. Dapatkah kau membayar air mata yang basahi pipi ini? Mungkinkah kau mengerti amarah diri ini? Seperti akukah yang terus tertinggal, dengan sorot tangisan lugu yang semakin tak terdengar. Ketika agama dijadikan pasar, siapa berkuasa, siapa pula yang menjadi sampah? Sama seperti debat terbuka tanpa menghasilkan solusi, seiring tawa lepas para provokator. Maka tidak dapat dipahami lagi pembatas antara pahala dan dosa, karena hukum di negeri ini sudah cukup untuk menjadi neraka. 

Bandung, Januari 2014  
Lanjutan dari artikel File X yang disebar via email 2009-2012 silam 
  

  • Share:

You Might Also Like

2 komentar