Sejak abad ke-20, dunia perlahan menyadari satu hal
yang ganjil: populasi manusia memang terus bertambah, tapi kebijakan global
seolah diarahkan untuk mengatur laju
pertumbuhan itu secara misterius. Banyak teori konspirasi meyakini bahwa di
balik istilah ilmiah seperti kesehatan
reproduksi atau pembangunan berkelanjutan,
terselip agenda tersembunyi — proyek besar untuk mengendalikan jumlah manusia
di bumi.
Gagasan mengatur populasi bukanlah hal baru. Pada
awal 1900-an, muncul gerakan eugenika
di Amerika dan Eropa — teori bahwa manusia “unggul” harus dilestarikan dan yang
“lemah” harus dikurangi. Beberapa ilmuwan bahkan mendapat dukungan dana besar
untuk riset “penyaringan genetik”. Setelah Perang Dunia II dan tragedi Nazi,
konsep itu resmi ditolak, tetapi ide dasarnya tidak pernah benar-benar hilang.
Di balik layar,
kebijakan global mulai disusun ulang dengan istilah yang lebih halus. Tahun
1952, Population Council
dibentuk oleh keluarga Rockefeller — lembaga yang fokus pada “pengendalian
kelahiran di negara berkembang”. Tak lama, PBB, WHO,
dan lembaga-lembaga donor internasional mulai aktif mendanai program keluarga
berencana di Asia dan Afrika.
Banyak pihak percaya bahwa agenda ini melampaui
sekadar kesehatan publik.
Beberapa dokumen yang bocor, seperti National
Security Study Memorandum 200 (1974), menyebutkan bahwa pertumbuhan
penduduk di negara berkembang dapat “mengancam stabilitas ekonomi global”. Maka
muncullah dugaan: pengendalian populasi bukan untuk kemanusiaan, tapi demi
menjaga keseimbangan kekuasaan dan sumber daya.
Teori depopulasi
modern berkembang lebih luas saat pandemi global melanda dunia. Vaksin,
penyakit, hingga perubahan iklim disebut-sebut sebagai “alat halus” untuk menekan
jumlah manusia. Meski belum ada bukti konkret, kebetulan demi kebetulan terus
terjadi: krisis pangan, perang, inflasi, dan wabah penyakit selalu menyerang
wilayah dengan populasi tinggi.
Nama-nama besar seperti Bill Gates, Rockefeller
Foundation, World Economic Forum,
hingga WHO sering muncul dalam
berbagai teori. Mereka dianggap menyusun kebijakan global yang sebenarnya
diarahkan untuk menciptakan “Tatanan Dunia Baru” — sistem sosial dan ekonomi di
mana hanya sebagian manusia yang dianggap layak hidup dalam dunia yang efisien
dan terkendali.
Beberapa teori bahkan
menyebut bahwa program seperti vaksinasi massal, GMO (makanan hasil rekayasa
genetik), hingga sistem digital ID global hanyalah bagian dari rancangan besar
untuk memantau dan membatasi kehidupan manusia modern.
Tentu saja, tidak semua teori itu dapat dibuktikan.
Sebagian hanyalah tafsir atas kebijakan global yang kompleks. Namun, sejarah
telah mengajarkan bahwa kekuasaan selalu menggoda manusia untuk bermain peran
sebagai “Tuhan” — menentukan siapa yang pantas hidup dan siapa yang tidak.
Agenda populasi dunia
bisa jadi hanyalah mitos. Tapi bisa juga kebenaran yang perlahan disembunyikan
dalam terang.
Karena dalam dunia modern ini, pengendalian tidak selalu dilakukan dengan
perang — kadang cukup dengan kebijakan, data, dan satu jarum suntik kecil yang
menyentuh kulit manusia.

0 Komentar