21 Tahun Setelah Tsunami Aceh: Doa dari Laut yang Menggulung

21 Tahun Setelah Tsunami Aceh: Doa dari Laut yang Menggulung


Pagi itu datang seperti biasa.
Langit di barat masih pucat, udara sedikit lembap, dan suara ayam bersahut di antara pohon kelapa yang bergoyang perlahan.
Di pesisir Ulee Lheue, para nelayan menata jaring, anak-anak kecil bermain pasir di tepi pantai, dan para ibu menjemur pakaian di halaman rumah panggung yang menghadap laut.
Tak ada yang istimewa.
Hanya ketenangan, seperti setiap pagi di ujung barat nusantara.

Azan Subuh baru saja usai.
Beberapa orang masih di masjid, sebagian lainnya menyiapkan sarapan.
Radio tua memutar berita ringan dari Banda Aceh — tak ada yang menyinggung tanda bahaya.
Hanya desiran ombak yang seperti biasa datang dan pergi, tenang dan damai.

Tapi entah mengapa, hari itu laut tampak berbeda.
Garis cakrawalanya terlalu sunyi, terlalu biru, terlalu sempurna untuk dipercaya.
Burung camar yang biasa berputar di udara seolah enggan mendekat.
Seseorang sempat berbisik, “Aneh, angin tak berhembus pagi ini.”
Namun tak ada yang menaruh curiga — sebab siapa yang sanggup menebak murka dari sesuatu yang tampak seindah laut?

Bumi bergetar tiba-tiba.
Pelan pada awalnya, lalu semakin kuat, seolah ada raksasa yang menggeliat di bawah tanah.
Suara genting beradu, tembok retak, air di kendi bergetar.
Orang-orang berlari keluar rumah, sebagian berteriak menyebut nama Tuhan.
Getar itu berlangsung hanya beberapa detik, tapi meninggalkan kecemasan yang tak bisa dijelaskan.
Lalu hening.
Benar-benar hening — seperti napas dunia berhenti.

Tak ada yang tahu, bahwa dalam keheningan itu, laut sedang menahan tangis Tuhan.
Gelombang raksasa sedang berlari dari dasar bumi, membawa pesan yang tak bisa dibaca siapa pun.
Dan dalam hitungan menit, sejarah akan terbelah dua: sebelum dan sesudah ombak datang.



Dari kejauhan, seseorang melihat laut tiba-tiba menjauh.
Air surut begitu cepat, meninggalkan dasar pantai yang basah dan berkilau di bawah matahari pagi.
Anak-anak berlari, tertawa, menunjuk ikan-ikan yang terjebak di pasir.
Mereka tak tahu, laut sedang mengambil napas panjang.

Beberapa nelayan menatap heran.
“Kenapa air lari begitu jauh?” tanya seorang tua, tangannya masih memegang jaring.
Tapi belum sempat dijawab, di ujung mata mereka muncul garis putih di cakrawala — kecil, tapi bergerak cepat.
Bukan ombak biasa.
Ia datang seperti tembok air, tinggi, menggulung, menelan warna biru menjadi kelabu.

Lalu terdengar suara…
Bukan gemuruh, bukan teriakan — tapi raungan bumi yang tak bisa dijelaskan.
Orang-orang mulai berlari.
Suara takbir bersahut di udara.
Tangan mencari tangan, langkah saling menabrak, nama-nama dipanggil dengan panik.
Namun laut terlalu cepat.
Ia datang seperti raksasa tanpa mata, menelan rumah, masjid, dan manusia dalam satu tarikan napas besar.

Tak ada lagi jalan untuk lari.
Tak ada lagi waktu untuk menoleh.
Tak ada lagi nama yang sempat disebut.

Dalam beberapa detik, semuanya hilang.
Rumah-rumah hanyut, kapal menabrak atap, pohon kelapa patah seperti ranting.
Di udara, hanya terdengar gemuruh air dan doa yang tersisa setengah kalimat.
Lalu, dunia berubah menjadi lautan lumpur dan puing.

Bagi yang selamat, waktu berhenti.
Mereka berdiri di antara reruntuhan, mencari suara, mencari napas, mencari siapa pun.
Tapi tak ada yang menjawab.
Yang tersisa hanya diam — diam yang berat, diam yang suci.
Dan dari diam itulah, doa mulai tumbuh lagi, pelan-pelan.

“Laut telah menelan segalanya, tapi tidak mampu menenggelamkan iman manusia.”



Setelah ombak pergi, dunia menjadi sunyi.
Tak ada lagi suara ayam, tak ada lagi anak-anak bermain, tak ada lagi azan yang terdengar dari menara masjid.
Yang tersisa hanya lumpur, air, dan sepi yang merayap seperti kabut.
Pohon kelapa berdiri miring, jalan hilang, rumah-rumah hanyut ke laut.
Bau asin bercampur lumpur dan kayu basah memenuhi udara.

Di antara reruntuhan, seseorang berjalan tanpa alas kaki.
Tangannya gemetar, matanya mencari sesuatu — atau seseorang — yang tak lagi ada.
Di bahunya, hanya selendang basah yang menempel.
Ia memanggil nama anaknya, lirih, seolah takut kalau suaranya mengusik ketenangan laut.
Tapi tak ada jawaban.
Hanya angin yang membisikkan kembali namanya.

Di tempat lain, seorang lelaki duduk di samping jenazah istrinya.
Ia tak menangis.
Air matanya sudah kering, mungkin tenggelam bersama gelombang tadi.
Ia hanya menatap langit, lalu berbisik:

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Kalimat yang sederhana, tapi cukup untuk menampung seluruh kesedihan dunia.

Masjid-masjid roboh, tapi di antara puing, suara takbir masih terdengar.
Lirih, bergetar, tapi nyata.
Beberapa orang menunaikan salat di tanah berlumpur, dengan pakaian robek dan tubuh gemetar.
Tak ada sajadah, tak ada air bersih, tapi hati mereka bersujud dengan pasrah yang sempurna.
Sebab di hari itu, manusia benar-benar tahu arti kecilnya diri di hadapan Tuhan.

Di atas laut yang kembali tenang, terapung sepotong papan bertuliskan “Bismillahirrahmanirrahim.”
Entah dari rumah siapa, entah dari masjid mana — tapi kata itu seolah menjadi tanda bahwa Aceh belum benar-benar musnah.
Masih ada iman yang bertahan di antara air mata dan lumpur.
Masih ada doa yang menembus langit, meminta kekuatan untuk bangkit lagi.

“Tuhan, jika ini ujian, kuatkan kami.
Jika ini peringatan, ajari kami untuk mengingat.”



Hari-hari setelah bencana itu berjalan seperti mimpi yang tak berujung.
Tidak ada waktu untuk menangis terlalu lama — hanya untuk bertahan.
Orang-orang mulai menggali, mencari apa pun yang bisa diselamatkan: foto keluarga, selembar sajadah, potongan Al-Qur’an yang basah.
Setiap temuan kecil terasa seperti mukjizat.

Ketika dunia mendengar kabar itu, pesawat-pesawat datang membawa pertolongan.
Dari Jakarta, dari Turki, dari Jepang, dari seluruh penjuru bumi.
Mereka datang dengan pakaian seragam, membawa makanan, air, dan tangan-tangan yang siap menggenggam duka Aceh.
Bahasa mungkin berbeda, tapi air mata manusia ternyata sama di mana pun.

Di tengah reruntuhan, anak-anak mulai tersenyum lagi.
Mereka bermain dengan bola plastik sumbangan, menendangnya di antara sisa-sisa bangunan.
Beberapa tenda berdiri di tanah lapang; di dalamnya, doa dan azan kembali menggema.
Perlahan, suara hidup kembali terdengar — langkah, canda, dan takbir.

Dari puing-puing itu, Aceh belajar satu hal: bahwa laut tidak hanya membawa bencana, tapi juga kesempatan untuk mulai dari awal.
Konflik bersenjata yang dulu bertahun-tahun membara perlahan mereda.
Tsunami menjadi bahasa universal yang meluluhkan amarah manusia.
Di antara tangis dan doa, benih perdamaian mulai tumbuh.

“Mungkin laut datang bukan untuk menghancurkan,” tulis seseorang di papan kayu,
“tapi untuk mengingatkan, bahwa hidup harus dibangun kembali dengan cinta.”

Tahun demi tahun berlalu.
Bangunan baru berdiri, jalan-jalan kembali hidup, sekolah dibuka, dan masjid dibangun lebih kokoh dari sebelumnya.
Anak-anak yang dulu kehilangan orang tuanya kini tumbuh menjadi guru, dokter, dan relawan.
Mereka membawa luka yang sama, tapi juga semangat yang sama: menjaga Aceh agar tetap berdiri, agar tak ada lagi air mata yang sia-sia.

Laut kini tenang.
Tapi setiap kali orang menatapnya, ada rasa yang sulit dijelaskan — campuran takut, rindu, dan hormat.
Sebab di sana, tersimpan kenangan yang tak akan pernah hilang, meski ombak terus datang dan pergi.



Dua puluh satu tahun telah berlalu.
Angin di pesisir Ulee Lheue kini lebih tenang, pohon kelapa tumbuh kembali, dan anak-anak berlari di tepi pantai sambil tertawa.
Laut yang dulu menggulung kota kini tampak jinak — seolah tak pernah marah.
Namun bagi Aceh, air yang tenang itu tak pernah benar-benar berarti damai.
Ia tetap membawa kenangan yang hidup di setiap ombak yang menyentuh pasir.

Setiap 26 Desember, orang-orang datang ke pantai.
Ada yang menabur bunga, ada yang berdiri diam sambil menatap horizon, ada pula yang sekadar berdoa dalam hati.
Mereka tak lagi menanyakan mengapa — karena tak ada jawaban yang bisa menandingi kehendak Tuhan.
Yang tersisa hanyalah kesadaran: bahwa hidup adalah anugerah yang rapuh, dan kita hanya penumpang sementara di atas bumi milik-Nya.

Aceh memang telah damai, tapi belum tentu benar-benar sembuh.
Dulu, mereka yang bersekutu dengan pemerintah dianggap musuh, diburu, bahkan dilenyapkan.
Kini, justru mereka yang dulu berjuang melawan, duduk di kursi pemerintahan yang sama.
Dulu, baju berseragam dianggap lambang penindasan.
Sekarang, banyak yang bangga melihat anaknya mengenakan seragam itu.
Begitulah waktu — ia memutar arah, dan memaksa luka menjadi bagian dari perjalanan.

Masih ada getir yang tersisa.
Masih ada tanya yang menggantung di dada:
ribu-ribu nyawa yang hilang, apakah semuanya sudah dibayar dengan adil?
Ataukah kedamaian hari ini hanya tertukar oleh uang dan kekuasaan?
Entahlah.
Aceh mungkin sudah tidak berperang, tapi sebagian hatinya masih berjuang — melawan kecewa, melawan lupa.

Namun di balik semua itu, ada rasa syukur yang tak bisa disangkal.
Bahwa Aceh masih berdiri.
Bahwa di antara reruntuhan dulu, kini tumbuh sekolah, pesantren, dan tawa anak-anak yang lahir dari generasi yang selamat.
Mereka tidak lagi hidup dalam perang, tapi dalam pelajaran tentang arti damai yang sejati.

“Laut telah mengambil banyak,” kata seorang ibu tua di tepi pantai,
“tapi ia juga mengembalikan kami kepada Tuhan.”

Hari ini, Aceh bukan lagi luka.
Ia adalah doa yang berjalan — doa yang lahir dari ombak, tumbuh di atas tanah, dan hidup di dada orang-orang yang masih mau mengingat.
Karena setiap kali kita menatap laut, kita tidak hanya melihat air;
kita melihat sejarah, kehilangan, dan cinta yang tak pernah benar-benar tenggelam.



Dua puluh satu tahun sudah berlalu.
Laut kini tenang, tapi hati Aceh masih berdoa.
Semoga damai ini bukan akhir dari perjuangan,
tapi awal dari pengampunan — untuk bumi, untuk manusia, dan untuk diri sendiri.

 


Posting Komentar

0 Komentar